seputar parno dan jitak

paranoid

saya punya seorang teman kantor yang duduk bersebelahan, sebut saja namanya sipantatgoyang.

saya kurang memperhatikan sejak kapan dia punya sifat paranoid yang membuat orang-orang disekitarnya (termasuk terutama saya) terkena sindrom kepingin-jitak-kepala-sipantatgoyang. apa itu? dia menjadi sangat paranoid terhadap gempa bumi. jadi bisa dibayangkan, dalam sehari minimal 3 kali sipantatgoyang berubah pucat dari muka sampai pantat dan berkata (lebih tepatnya sedikit berteriak)… “GEMPAAAA!”. itu belum termasuk dalam beberapa menit sekali sipantatgoyang berkata pelan pada teman sebelahnya (ya, itu adalah saya) “eh, ada gempa ya? kok gue ngerasa goyang-goyang gitu ya ?”

sekarang kira-kira apa yang akan anda lakukan jika punya teman seperti itu ? padahal (mungkin) sebenarnya kepala dia sendiri yang pusing dan ngerasa badannya goyang. tapi dengan begitu bukan berarti bisa bikin semua orang jadi ikutan parno, dong!

seputar musibah, panik dan teriak

rasanya bohong besar jika masih ada dari anda yang belum menyaksikan detik-detik musibah gempa bumi di sumatera barat belum lama ini. semua stasiun tv jor-joran menampilkan saat dimana bumi berguncang hebat dan manusia yang berlarian menyelamatkan diri.

dari semua kepanikan yang terjadi, sayup suara yang terdengar antara lain …

‘Allahu akbar!, Astaghfirullah!, Subhanallah!’ dan seterusnya.

tak pelak hal tersebut membuat saya menjadi malu dan sedih. mengapa? mari kita berfikir dengan jujur, seberapa sering kita melafalkan kata-kata takbir dan dzikir seperti di atas ? semoga saya salah, jangan-jangan (sekali lagi, jangan-jangan) kita harus menunggu Tuhan “menegur” kita terlebih dahulu supaya kita mau berpekik dengan sekuat tenaga “Allahu akbar!”