Google di IPv6
Setelah menunggu lama (siapa yang nungguin?) Akhirnya Google jalan juga di IPv6.
Hehehe, Happy Googling..!
Setelah menunggu lama (siapa yang nungguin?) Akhirnya Google jalan juga di IPv6.
Hehehe, Happy Googling..!
Sekarang tahun 2007, akhir.
Sampai mana pertumbuhan ipv6 Indonesia ?
Agaknya setelah IPv6 menginjakkan kaki nya di tanah air, hingga saat ini (riset pertama tercatat pada tahun 2004 oleh CBN dan XL - CMIIW) pertumbuhan ipv6 di Indonesia sering terganjal beberapa masalah.. Masalah yang paling fundamental menurut versi saya pribadi adalah faktor SDM nya. Untuk masalah perangkat kita tak perlu lagi mempermasalahkannya. Dengan SDM yang benar-benar consern dengan ipv6, berbagai perangkat bisa dimanfaatkan..
Beberapa kali saya mengajukan pertanyaan kepada rekan2 saya yg aktifis di ISP Indonesia mengenai penerapan ipv6 di instansi mereka.
Jawaban yang saya dapat pun tidak jauh beda, rata-rata masih berkutat pada tidak adanya SDM yang konsern hingga alasan yang paling klasik, “belom butuh tuh..!”
Jika kita bicara masalah butuh dan belum butuh, memang masih sangat mencukupi untuk pemenuhan kebutuhan network dengan IPv4 di Indonesia pada saat ini. Namun kalau kita terus berkata ‘belum butuh’ dan seiring itu IPv4 terus digunakan, dan tanpa sadar menjadi bom waktu buat kita. Suatu saat, ketika IPv4 benar2 menipis, barulah terasa.. dan ironisnya, kita belum siap..!!
Secara pribadi saya lebih suka mengatakan implementasi IPv6 di lepaskan dari permasalahan butuh atau tidak butuhnya. Namun teknologi yang ditawarkan ipv6 dan perbandingannya dengan ipv4.
Analoginya pada saat kita diberikan sebuah sepeda oleh orang tua.. Dalam usia anak2, betapa senangnya kita.. tapi suatu ketika orang tua kita menawarkan sebuah sepeda motor.. Apakah kita akan menolaknya dan tetap menggunakan sepeda..? Saya sangat yakin kita akan meninggalkan sepeda dan segera beralih ke sepeda motor yang menawarkan berbagai kemudahan. Apakah alasannya hanya karena sepeda sudah tidak bisa dipakai?? tentu bukan, jika Anda berfikir masalah ‘upgrade’ dan peningkatan performa, ok.. kita dalam jalur yang sama sekarang.
Sempat juga terpikir oleh otak nakal saya, bahwa bangsa Inodonesia mirip dengan bangsa yang ‘latah’, mudah kaget. Memang suatu saat perlu sedikit ‘paksaan’ untuk melakukan sesuatu atau berpindah ke sesuatu yang baru. Saya ambil contoh migrasi opensource. Beberapa saat yang lalu, kita terlena dengan sistem operasi binary yang begitu memanjakan. Walaupun OpenSource telah hadir dan menunjukkan keistimewaannya, tampak sekali kemalasan telah membawa kita mementahkan opensource dan tetap asyik dengan Office kita. Hingga suatu saat ramai lah terdengar kabar tentang HAKI dan sweeping software bajakan yg mulai se-ramai operasi WTS dan Waria.
Bagaimana ya untuk melakukannya juga di IPv6, bagaimana kalau dilakukan sedikit ‘gertakan’ dan ‘ancaman’ untuk men-trigger user2 malas untuk segera berpindah (ke IPv6 tentunya). Dengan memanfaatkan sifat ‘latah’nya Indonesia, mungkin cara ini bisa mulai difikirkan. he he he.
Saat detik.com menelorkan www6 nya, sempat beberapa lama kalangan aktivis ‘kaget’ dan ramai lah lagi ipv6 di tanah air. Wong namanya orang kaget, pasti gak lama, dan segera adem lagi. Yah, liat aja sekarang.
Sekali lagi, ini cuman tulisan nakal admin ingusan yang kurang kerjaan. Kalo gak setuju, ya silakan di caci.
.dk_
Satu pertanyaan, ‘mengapa detik.com menggunakan name www6.detik.com untuk situs dengan dukungan IPv6 nya, dan tidak menyatukannya dengan www.detik.com ?’
Pasti terlihat lebih ‘bergengsi’ bila situs www.detik.com bisa diakses dengan IPv4 plus IPv6 dalam satu nama saja www.detik.com saja).
Yang harus diluruskan disini adalah, hal tersebut terjadi dengan kesengajaan dan bukan karena pihak IT detik.com belum bisa menyatukannya.
Alasannya.. ??
Silakan pelajari fitur dari 2 browser paling populer di kalangan surfer2 jagat maya saat ini, Internet Explore dan Mozilla Firefox.
Di versi terbaru mereka, (IE7 dan Firefox2) resolver default nya adalah menggunakan IPv6. Jadi secara default setiap situs yang ‘ditengok’ melalui dua jendela ini, akan menanyakan terlebih dahulu di server tujuan.. Apakah situs ini support dengan IPv6 ? Jika tidak, maka koneksi akan dilangsungkan dengan protokol IPv4. Jika iya, maka browser akan berganti meneliti apakah host yang digunakan saat ini sudah mendukung IPv6 juga? Kalau kedua pihak telah support dengan IPv6, maka koneksi akan dilangsungkan. Namun apa yang terjadi jika didapati server situs tujuan telah mendukung IPv6 sedangkan host asal belum ? Maka browser akan sedikit membutuhkan waktu untuk mengganti resolver-nya dengan IPv4 serta membangun hubungan dengan IPv4.
Lalu mengapa pihak detik.com meluncurkan versi www6.detik.com-nya? Jelas alasannya mengacu pada reliabilitas koneksi yang dijanjikan kepada pengguna IPv6. Dengan IPv4 yang telah ada, detik.com yang telah terhubung langsung dengan OpenIXP tidak akan memerlukan lompatan hop yang panjang untuk dijangkau dari dalam negeri. Hal tersebut masih bisa dioptimalkan dengan lebih baik dengan IPv6. Dengan jumlah lompatan (router) yang lebih sedikit, jelas kehandalan koneksi lebih bisa dijamin.
Jadi, pilih www atau www6 … ?
Silakan tanya host Anda..!
Dk_
Sambil nunggu buka puasa iseng2 buka situs depkominfo (sekali-sekali jadi nasionalis dikit, heheheh). Eh lagi ada topik yang hangat, dan kayaknya bakal bikin panas lagi nih.
Pemerintah mencanangkan hajatan yang dikasi nama ROADMAP KONVERGENSI INFRASTRUKTUR TIK, yang rentang project nya dari tahun ini (2007) sampai 2011.
Goalnya adalah mencapai layanan teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang benar-benar konvergen (berada pada satu platform saja). hajatan ini sebenarnya masih satu rangkaian dengan Apricot (kondangan orang2 APNIC) 2007 kemaren.
Sudah berjalan-kah .. ? sejauh ini (menurut program kerja postel) tahun 2007 ini masih diawali dengan penataan undang-undang dan regulasi. Sedangkan hal2 yang bersifat lebih ‘tehnis’ rata-rata baru dimulai tahun 2008.
Sejauh ini yang saya tangkap konvergensi ini membutuhkan penataan-penataan kembali internet resource di Indonesia, seperti IP, DNS dan IIX. Serta dan tidak lupa migrasi IPv4 - IPv6 yang juga akan dilaksanakan pada tahun 2008. Hal ini berkenaan dengan rencana konvergensi pemerintah yang nantinya akan menggabungkan segala resource publik diatas satu platform, tentu saja termasuk di dalamnya aplikasi2 yang tergolong ‘rakus’ bandwidth seperti streaming dan IP TV, jadi tentu saja kebutuhan akan IPv6 tidak bisa di tunda lagi.
Banyak kalangan masih meragukan migrasi ini, memang benar untuk saat ini IPv4 masih bisa menutupi keperluan networking di Indonesia, namun jangan lantas hal ini membuat kita menjadi terlena dan mengesampingkan pertumbuhan resource ke depan. Bahkan untuk menunjukkan keseriusan akan hal ini, postel membentuk taskforce yang concern di ipv6 ini, tapi jalan nggak yaah..??
Untuk menyikapinya, kita selaku pelaku layer bawah mesti berbenah dan bersiap untuk menyambut Roadmap Postel ini. Jangan buru-buru underestimate dulu dengan pemerintah. Iklan bilang, coba dulu.. baru komentar..!
Source nya bisa diambil di http://www.postel.go.id/update/id/baca_i…
Dika_
Setelah memiliki mesin Unix yang mendukung ipv6, sekarang bagaimana menjadikannya sebuah gateway?
BSD hadir dengan sebuah daemon yang bernama rtadv (router advertisement). Daemon yang akan megirimkan paket data yang berisi informasi prefix ipv6 kepada suatu interface. Rtadv akan melihat routing table dan memeriksa setiap perangkat yang terhubung langsung ke interface yang telah ditentukan. Jika perangkat tersebut tidak memiliki ipv6 static, maka daemon ini akan mengirimkan informasi prefix nya dan akan menunggu response dari klien. Jika klien di set dengan opsi ‘autoconfiguration’ maka dia akan menggunakan satu alamat yang valid dari prefix yang ditawarkan router.
Pada artikel sebelumnya telah kita tambahkan opsi untuk mengaktifkan daemon rtadv ini pada file /etc/rc.conf.
————————————/etc/rc.conf—————————————-
……
rtadvd_enable=”YES”
rtadvd_interfaces=”vr0″
……
————————————-END————————————————
Hal ini berarti rtadvd akan meng-advertise prefixnya ke semua perangkat yang terhubung langsung dengan interface vr0, entah itu mesin Windows ataupun Unix.
Ok, sekarang yang harus dilakukan adalah sedikit modifikasi di mesin klien.
- Windows:
1. Masuk ke Command Promt dan ketikkan “ipv6 install”
2 Ketikkan “ipv6 renew”
3. Periksa dengan ipconfig, apakah sudah memperoleh address ipv6 dari router.
4. Lakukan tes koneksi dengan ping6, tracert6

- Linux
Masuk ke /etc/sysconfig/network dan tambahkan baris berikut:
————————————/etc/sysconfig/network——————————
……
NETWORKING_IPV6=yes
IPV6AUTOCONF=yes
……
————————————-END————————————————
Di /etc/sysconfig/network-scripts/ifcfg-eth0 tambahkan:
————————/etc/sysconfig/network-scripts/ifcfg-eth0———————–
……
IPV6INIT=yes
……
————————————-END————————————————
Sesudah itu restart service network Anda dan periksa dengan ifconfig eth0, apakah sudah mendapatkan address dari router..
Jika masih terjadi kesalahan, periksa kembali pekerjaan Anda dari awal.
Semoga membantu.