Archive for the 'general' Category

putri, penari jaipong

putri1Putri masih terengah-engah ketika menghampiri saya di pinggiran saung siang itu. dari pagi hingga siag ia memberikan pelatihan dasar tarian jaipong kepada anak-anak peserta sebuah kegiatan jambore yang diselenggarakan stasiun tv swasta. keringat membasahi keningnya namun senyumnya tetap mengembang seakan panasnya siang itu sama sekali tak berpengaruh buatnya.

sindangbarang, bogor, itulah asalnya. baru saja ia diterima di sebuah perguruan tinggi swasta di bogor jurusan akuntansi, bidang yang sangat ia cintai.
mulai belajar menari jaipong pada saat duduk di kelas 1 sma, “pada awalnya ibu yang memaksa saya, tapi setelah beberapa bulan berlatih dan mendalami jaipong justru saya semakin mencintai tarian ini,” kenangnya.

proses belajar jaipong yang dijalani putri termasuk cepat. baru setahun berlatih job pertama pun datang menghampirinya. ia diminta untuk membawakan tari jaipong (pada waktu itu berkelompok) dalam sebuah acara penyambutan tamu dari manca negara yang berkunjung ke bogor untuk melakukan misi pengamatan budaya.
“wih, senang sekali.. apalagi pada waktu itu mendapat honor. walaupun tidak begitu besar tapi saya sangat mensyukurinya,” tuturnya sambil berbinar-binar.
bisa dibilang itulah awal karir putri sebagai penari profesional. sejak saat itu tawaran pun berdatangan, baik dari perseorangan maupun dari instansi pemerintah. namun tawaran-tawaran tersebut tak lantas langsung diterima begitu saja, sang ibu kembali berperan sebagai filter. waktu pentas tak boleh lebih dari pukul 10 malam dan tak boleh mengganggu jadwal sekolahnya, berarti hanya boleh dilakukan pada hari libur saja.

saya pun mulai bertanya tentang image jaipong yang mulai tercemar oleh ‘rekan-rekan seprofesinya’ yang membawakan tarian jaipong untuk hal-hal negatif. putri mengerti hal tersebut, ia pun hanya bisa prihatin dan menyayangkan.
“seharusnya jaipong menjadi icon kebudayaan jawa barat yang berharga, namun harus tercemar citranya hanya karena ulah segelintir orang,” sesalnya. “beberapa penari memang mau melakukan gerakan-gerakan erotis di dalam tariannya, bahkan sebagian bersedia memberikan layanan plus plus kepada tamu dengan imbalan uang”

namun menurut putri semua kembali ke masing-masing orangnya. “kami (para penari) hanya sebatas menghadirkan seni tari kami. apakah akan ditanggapi dengan positif atau negatif oleh penikmatnya, yang jelas kami hanya menjalankan profesi kami dengan profesional.” tegasnya.

walaupun karir menari putri bisa dibilang mulai gemilang, namun ia mengaku bahwa jaipong bukan merupakan tujuan karir utamanya. ia tetap ingin menjadi ekonom, namun cintanya kepada jaipong dan kebudayaan daerah kelahirannya tetap menjadi bagian dari dirinya hingga kapanpun.

putri juga berangan-angan untuk membuka sebuah sanggar tari sendiri untuk anak-anak usia sekolah dasar di kampungnya.
“ini kebudayaan dari tanah kita, kalau tidak diperkenalkan sedari kecil, takutnya nanti akan menghilang pelan-pelan. dan jika bukan putra daerah seperti kita-kita ini, siapa lagi yang akan merawatnya?” pungkasnya.

siapa takut ?

boss.gif

suatu pagi (mungkin lebih benar dikatakan siang) ketika saya hendak berangkat kerja, seorang teman kost bertanya, “setiap hari berangkat sesiang ini? tidak takut kena marah si bos?”.
pertanyaan yang singkat memang, tapi lagi-lagi cukup menarik perhatian saya. satu kata yang saya tangkap, takut.

apa saya merasa takut pada atasan? setelah beberapa hari saya perhatikan diri saya sendiri, ternyata jawabannya adalah, tidak!. lho, mengapa?

awalnya saya sedikit khawatir juga, apa saya sedang tidak normal? mengingat karyawan pada umumnya akan selalu merasa takut kepada atasan mereka. terlambat masuk kantor, terlambat mengerjakan tugas dan sebagainya. tapi belakangan saya mulai mensyukuri ke-tidak-takutan saya.

disadari atau tidak, jakarta telah membuat penghuninya menjadi orang-orang yang ‘penakut’.
takut kena macet, takut terlambat ke kantor, takut kena marah bos, takut kena sp, takut di pecat dan ketakutan-ketakutan yang lain membuat manusia seakan berjalan dan bergerak di luar kemauan mereka sendiri, hidup pun menjadi seperti dikendalikan tangan-tangan lain. alangkah malang nya.

satu-satunya yang membuat saya tetap berangkat ke tempat kerja adalah karena memang ada yang harus saya lakukan. komitmen. lagipula selama masih ada orang-orang yang tetap membuat saya nyaman disana dan bisa diajak berdiskusi, mengapa tidak?

dan jika ada pertanyaan, kapan saya akan berhenti bekerja dan mencari pekerjaan lain? jelas sekali jika saya sudah mulai merasa tidak nyaman dan bila tidak ada yang bisa diajak ‘berbincang’ lagi. lalu apa yang bisa saya perjuangkan kalau sudah begitu..

jadi semoga setelah ini anda tidak bertanya lagi, ‘apa kamu tidak takut dipecat?’, dan pertanyaan-pertanyaan ber notasi ‘ke-takut-an’ yang lain.

oh ya, beberapa waktu lalu ketika saya membuat sebuah tulisan lain, beberapa rekan bertanya, “wah, berani sekali. apa tidak takut jika para atasan anda membaca postingan ini?”
saya jawab, “kalau begitu kebetulan sekali. kalau sudah pada baca, berarti saya tak perlu susah-susah menyampaikan kepada mereka, bukan ?”

jadi, masih takut ?

Mari Menjilat

Bagaimana agar saya bisa cepat naik jabatan dan memperoleh gaji bagus di kantor ?
Saya telah menemukan caranya, menjadi penjilat. Ya, bekerja sekenanya bahkan cenderung hanya bermain-main saja, mendengarkan musik dan ngobrol dengan teman-teman di internet di saat bos tidak ada, tapi ketika si bos datang, segera saya akan mengganti wajah. Serius bekerja dengan membuka aplikasi yang ‘keren’ dan akan membuat bos terkesan, memegang kepala dengan sebelah tangan agar terkesan berpikir keras memecahkan persoalan perusahaan, wah, pasti bos segera akan melihat bahwa saya adalah seorang karyawan teladan yang akan segera membuat profit perusahaan meningkat puluhan kali lipat.

Saya juga tidak perlu bergaul dengan karyawan-karyawan lain yang tidak terlalu saya butuhkan, cukup dekati dan ciptakan kesan akrab dan kekeluargaan dengan para dedengkot perusahaan saja. Mulai supervisor ke atas lah. Saya akan usahakan untuk berkomunikasi dengan mereka setiap harinya, entah itu membicarakan issue yang sedang hangat yang bermunculan di berita, ataupun sekedar bertanya kabar dia atau keluarganya.

Tak lupa untuk melihat keadaan sekitar, lihat saja, siapa yang sekiranya akan menghalangi langkah saya. Orang yang bekerja dengan serius dan mulai menarik hati pimpinan tidak bisa dibiarkan, tentu saja akan ‘membahayakan’ jalan saya. Jatuhkan dia! Bagaimanapun caranya, kalau perlu yakinkan atasan bahwa saya lah yang paling baik, tak lupa dengan sedikit bumbu keburukan-keburukan si rival kerja. Pasti bos tak akan meliriknya lagi.

Ok, lengkaplah rencana saya. Bisa saya pastikan si bos akan sangat dekat dengan saya, yakin denga kinerja saya dan yang paling pokok adalah jabatan bagus dan gaji saya yang akan terpompa dengan lancar. Huuh..

Hey, apa Anda orang seperti saya ??

Google di IPv6

Google IPv6

Setelah menunggu lama (siapa yang nungguin?) Akhirnya Google jalan juga di IPv6.

Hehehe, Happy Googling..!

Cinta dalam Ayat-Ayat

Ayat-ayat cinta

“Yuk, nonton Ayat-Ayat Cinta..!”
Suatu hari seorang teman berkata pada saya. Heh, saya tau itu film yang diangkat oleh Hanung Bramantyo -sutradara muda kondang yang telah sukses menelorkan film-film berkelas- dari novel best seller Habiburrahman.

Menariknya film ini? Sejauh ini saya belum menemukannya.Lho? beberapa teman mencibir kepada saya dan sebagian berkata “gak punya citarasa!”. Biar! Saya tetap menganggap penggarapan film ini sedikit ‘memaksa’. Setting yang diambil (seharusnya berada di Mesir, menurut novel aslinya) tak lebih dari 20% nya saja yang benar-benar dilakukan di Mesir, selebihnya? Saya kurang tau pasti, yang jelas ada di Indonesia, dengan properti seadanya. Saya berani mengatakan film ini laris karena images novelnya yang bertitle “Best Seller” telah terlebih dahulu merasuk ke otak para calon penonton yang saya bisa jamin lebih dari 90% nya sudah hapal betul alur cerita film yang akan ditonton ini.

Setting film yang memanjakan penikmat cerita cinta sejati dengan hiasan air mata di sana-sini jelas terlalu biasa di Indonesia bukan? Saya (dan Anda semua) bisa dengan jelas menangkap nuansa Islam yang begitu kental di sepanjang film ini, dan inilah nilai lebihnya, bukan cerita cinta nya Bung!

Hal yang paling menggelitik saya adalah, perilaku penontonnya. Hampir 40% rekan saya yang menonton film ini jadi berubah! Iya, Bahasa-bahasa Arab kagetan jadi sering terdengar, teman wanita mulai berjilbab (yang tentu hanya sebagian kecil saja), dan lain sebagainya. Wow, senangnya melihat ini. tapi saya pernah menulis bahwa bangsa Indonesia ini terlalu latah untuk dibilang ‘mendapat hidayah’, tapi semoga saya salah.

Next Page »