Archive for the 'Bener-bener Blog' Category

seputar opini masyarakat

gambar: waroengseni.blogspot.com

pagi ini saya menonton acara editorial media indonesia di metrotv
konsep acaranya adalah ada seorang moderator dan pakar yang didatangkan. mereka akan mendengarkan sebanyak mungkin opini masyarakat berkenaan dengan topik yang sedang diangkat, lalu kemudian sang pakar akan memberikan komentar dan menarik kesimpulan.

kebetulan hari ini topik yang sedang dibicarakan adalah mengenai isu upaya pelemahan kpk sekaligus undang-undang tipikor.
saya mengikuti dari awal acara tersebut dan menurut hitungan saya 99% masyarakat yang menyumbang opini menggariskan satu hal yang sama.

satu penelpon kurang lebih berkata seperti ini, “kasus korupsi di indonesia sepertinya sudah kronis dan tidak mungkin bisa disembuhkan lagi, setiap kali pemerintah membentuk badan anti korupsi pasti berujung pada korupsi yang lebih besar dan pada akhirnya berlalu begitu saja”

penelpon berikutnya berujar “kpk selama ini hanya berkonsentrasi menangani korupsi di dpr pusat saja, coba lihat, lingkungan pemerintah daerah telah menjadi ladang korupsi yang subur.”

penelpon selanjutnya tak kalah sengit “undang-undang tipikor terasa mengebiri kpk dan memanjakan koruptor, bagaimana tidak? lhawong yang melahirkan undang-undangnya para koruptor juga”

dan penelpon-penelpon lain yang menyuarakan hal senada.
benang merah yang saya (dan mungkin anda) tangkap adalah: pesimisme dan krisis kepercayaan.
masyarakat mulai pesimis pada kinerja eksekutif, legislatif sekaligus yudikatif yang membuat mereka bingung harus percaya kepada siapa lagi. kasian sekali bukan ?

namun terlepas dari apa yang dibahas, paling tidak ada satu sinyal bagus yang bisa ditangkap, yakni masyarakat mulai berani vokal dan kritis terhadap pemerintah. apakah didengar atau tidak (atau seolah-olah tak didengar) kita hanya bisa berdoa untuk yang terbaik.

apakah sampeyan pesimis juga ?

gambar: waroengseni.blogspot.com

seputar media dan segala kuasanya

media berarti sarana penghubung atau penyampai informasi. jauh pada masa lalu media massa atau pers berarti sekumpulan orang yang biasa disebut jurnalis mengumpulkan informasi yang terjadi (yang kemudian disebut berita) untuk disampaikan kepada masyarakat.

rasanya bukan pada tempatnya saya menyampaikan bahan mata kuliah pengantar jurnalistik disini. sekarang bagaimana pengaruh media massa bagi masyarakat? jawabannya adalah diluar dugaan kita. para pemimpin besar dunia pada umumnya dan indonesia pada khususnya menaruh perhatian yang sangat besar pada media massa. tak perlulah saya ingatkan kembali apa yang terjadi pada masa orde baru yang bisa dibilang merupakan era kelam bagi dunia jurnalistik indonesia. begitu orde baru tumbang dan reformasi bergaung kaum jurnalis seakan mendapat angin segar yang sudah sangat lama hanya berupa impian.

apa yang terjadi? istilah yang sering kita sebut sebagai kebebasan pers, apalagi setelah dipayungi UU no 40 tahun 1999 membuat pers menjadi nyaris tak terbatas ruang lingkupnya. pada masa awal dicetuskan, semua pihak (atau sebagian besar pihak) berbahagia. pers menjadi lebih bebas berekspresi dan meng-eksplorasi, sedang masyarakat mendapat informasi yang (diklaim) akurat dan transparan. transparansi menjadi doktrin mutlak segala hal yang berhubungan dengan hajat hidup orang banyak. pemilu, apbn, rumah tangga negara, penyelenggaraan tender dan sebagainya wajib terbuka terhadap pers. dan setelah sekian lama, beberapa oknum mulai gerah dengan para pencari warta yang seakan tak pernah lelah mengikuti kemana pun mereka pergi. ruang gerak semakin sempit, negara dan para punggawanya menjadi seakan tak punya privasi lagi.

di sisi lain, mari kita lihat lebih dekat bagaimana masyarakat menyikapi informasi yang mereka terima dari media massa. mari bersikap jujur, penggunaan istilah dalam pemberitaan memegang peranan penting di sini. masyarakat (awam) akan menelan mentah-mentah apa saja yang mereka saksikan dan dengar dari media massa. saya jadi teringat beberapa hari yang lalu ada sebuah stasiun televisi swasta yang pada saat itu sedang mengangkat masalah klaim malaysia terhadap tari pendet dan beberapa aset budaya indonesia. stasiun tv tersebut (melalui pembawa acaranya) sering sekali menggunakan istilah klaim, mencuri, menghina. dan kemudian perang, tentara, senjata, serang, ganyang dan diulang-ulang.

menurut anda bagaimana masyarakat mencerna informasi semacam ini? saya saja yang kebetulan ikut menyaksikan program tersebut menangkap pesan yang tersirat bahwa perang dan pengganyangan adalah harga mati yang tak bisa dihindari (terlepas bagaimana maksud sebenarnya dari program tersebut). lalu bagaimana dengan fungsi pers yang didengungkan sebagai fungsi informasi, pendidikan, hiburan, kontrol sosial dan ekonomi ? mari kita telaah lagi, berapa banyak porsi program televisi dan media massa pada umumnya yang membawa muatan pendidikan? lalu bagaimana pula dengan slogan pers yang dikatakan netral dan tak memihak?

menyambung masalah privasi negara, belakangan dpr kita sedang membicarakan tentang rancangan undang-undang mengenai rahasia negara (yang tentu saja ditentang habis-habisan oleh para penggiat pers). apa yang akan terjadi kemudian? mari kita saksikan bersama-sama, pemirsa. :)

sebentar, apa sampeyan merasa tulisan saya terlalu memprovokasi? tenang saja, ini hanya opini saja, tak lebih. ya, mumpung belum ada issu dikeluarkan undang-undang pelarangan beropini, mari kita manfaatkan hak yang satu ini dengan maksimal. setuju ?

seputar festival lagu daerah dadakan

menari bersama

.

siang itu selepas sholat jumat saya leyeh-leyeh di kantor sambil baca berita.
selang beberapa menit sayup-sayup terdengar suara seseorang berdendang pelan, hampir tak kedengeran namun saya tau pasti apa yang dinyanyikannya.

itu lagu Rasa Sayange, lagu daerah dari indonesia bagian tengah. saya berpikir pastilah si Firman yang menyanyikannya, orang keturunan jawa separuh cina yang duduk tak jauh di depan saya. tak ada hal besar sejauh ini.

namun 2 menit kemudian firman berdiri dan berjalan keluar ruangan, ehh, lagunya masih mengalun juga. suaranya terlalu murni (baca: fales) untuk ukuran musik dari file mp3. jadi siapa?

usut punya usut ternyata si Jai Ho *) yang menyanyikannya, lengkap dengan kepala yang ngangguk-ngangguk tanpa dosa. apa??? ya! Jai Ho si warga negara malays*a yang baru beberapa hari terakhir ngantor dan menempati meja di sebelah saya persis. %!@^*^#&(*@%&@# saya bener-bener tak tau lagi mesti bicara apa.

akhirnya, saya putar lagu Nyidam Sari dan Ketaman Asmoro dengan volume keras dari laptop saya. huh..!

(* menggunakan nama samaran guna melindungi tersangka dari amuk masa

kamis pahing vs jumat kliwon

calendar-pieceAnda tahu situs purbakala candi(keraton) Ratu Boko ? Jika tak tahu silakan mencari informasinya di internet karena saya tidak akan menjelaskan candi itu di sini.

beberapa hari yang lalu ketika saya secara tak sengaja terdampar disana bersama seorang teman, tak ada angin tak ada hujan sekonyong-konyong datanglah seorang bapak tua berusia 80-an menghampiri kami. dan tanpa tujuan yang pasti bapak ini lalu bercerita kepada kami tentang dirinya, bahwa ia telah tinggal di sekitar kompleks candi ratu boko sejak lahir, sempat ikut menjadi tentara perebutan kemerdekaan indonesia kala muda dan sebagainya. anehnya kami sama sekali tak keberatan mengikuti ceritanya dari awal sampai akhir, hingga pada akhirnya si bapak bertanya hari dan pasaran kelahiran saya. dengan santai saya jawab saja, kamis pahing pak!

beberapa detik lamanya si bapak komat-kamit sambil menggerakkan jemarinya macam orang yang sedang berhitung, kemudian berpetuah..

“hari naas kamu Jumat Kliwon, jadi jangan bepergian pada hari itu dan pukul satu siang berkatalah yang baik-baik saja.”

dan setelah melakukan hal yang sama terhadap teman saya, si bapak pun pergi begitu saja meninggalkan kami yang kebingungan. bahkan menanyakan nama si bapak pun kami tak sempat lagi.

ada masukan ?

merantau, seni pencak silat yang dibungkus dengan rapi

merantau-dlmkonon terdapat tradisi di tanah minang, bahwa jika anak laki-laki telah beranjak dewasa, maka telah saatnya ia meninggalkan kampung halamannya untuk pergi merantau, tujuannya adalah sebagai pembelajaran diri. tradisi itu pula yang membuat Yuda (Iko Uwais) beranjak meninggalkan kampung halaman dan keluarga yang amat disayanginya. jakarta tujuannya, kota yang sama sekali asing baginya. berangan-angan untuk menjadi guru silat, Yuda malah dihadapkan dengan dilema ketika justru ditawari untuk bekerja sebagai tukang pukul bagi sebuah organisasi prostitusi.

karena kejujuran dan kelurusan hatinya Yuda justru terlibat dalam misi penyelamatan seorang wanita yang akan dijadikan komoditas dan “dijual” ke luar negeri. dengan susah payah Yuda harus berjuang sendirian untuk membebaskan Astri (Sisca Jessica) dan adiknya, Adit (Yusuf Aulia) dari sekapan mafia kelas dunia penyelundup wanita. melalui berbagai macam pertempuran, dari tangan kosong, bersenjatakan tongkat besi hingga pertarungan sengit di atap gedung-gedung Jakarta Yuda berhasil menyelamatkan Astri dan Adit, namun sayang nasib malang justru menghampiri Yuda pada akhirnya. apa yang terjadi? silakan anda nikmati sendiri film ini.

menit-menit awal kita akan dimanjakan dengan panorama bukittinggi yang memanjakan mata, lanskap perbukitan hijau, perumahan khas minang serta kebun dan hutan yang masih alami. ditambah dengan close-up kehidupan penduduk lokal yang berprofesi sebagai petani ladang membuat kita merasa nyaman. untuk standar film laga indonesia, saya sangat salut terhadap film ini. semua scene laga dikerjakan dengan apik dan rapi, bahkan saya sempat lupa jika sedang menonton film dalam negeri. alur cerita sangat biasa, tak lebih dari anak muda yang merantau dan terlibat kisah penyelamatan wanita di kota besar. sangat umum. namun pemilihan tokoh, teknik pengambilan gambar hingga penataan laga plus special efeknya menunjukkan perkembangan yang sangat pesat untuk ukuran film indonesia. saya benar-benar salut.

peringatan saya, film ini kurang direkomendasikan untuk konsumsi anak-anak, sebab banyak sekali adegan pertarungan yang keras serta darah yang berceceran di sana-sini. namun jika memang anda ingin memperkenalkan pencak silat bagi putra-putri anda, jangan lupa untuk selalu mendampingi mereka selama menonton. selamat merantau!

–dika

Next Page »