Archive for October, 2009

seputar parno dan jitak

paranoid

saya punya seorang teman kantor yang duduk bersebelahan, sebut saja namanya sipantatgoyang.

saya kurang memperhatikan sejak kapan dia punya sifat paranoid yang membuat orang-orang disekitarnya (termasuk terutama saya) terkena sindrom kepingin-jitak-kepala-sipantatgoyang. apa itu? dia menjadi sangat paranoid terhadap gempa bumi. jadi bisa dibayangkan, dalam sehari minimal 3 kali sipantatgoyang berubah pucat dari muka sampai pantat dan berkata (lebih tepatnya sedikit berteriak)… “GEMPAAAA!”. itu belum termasuk dalam beberapa menit sekali sipantatgoyang berkata pelan pada teman sebelahnya (ya, itu adalah saya) “eh, ada gempa ya? kok gue ngerasa goyang-goyang gitu ya ?”

sekarang kira-kira apa yang akan anda lakukan jika punya teman seperti itu ? padahal (mungkin) sebenarnya kepala dia sendiri yang pusing dan ngerasa badannya goyang. tapi dengan begitu bukan berarti bisa bikin semua orang jadi ikutan parno, dong!

seputar bloger dan menulis

anda bloger? coba lihat kembali berapa banyak kata yang telah anda tulis.

kemarin seorang kawan berkata pada saya bahwa ia kagum dengan seorang rekannya yang piawai menulis. ia (rekan teman saya) mampu memproduksi tulisan yang panjang namun tetap tak membosankan untuk dibaca. kemudian barulah saya tahu bahwa rekan teman saya tersebut adalah seorang bloger (yang secara kebetulan juga saya kenal).

kemudian saya berpikir betapa hebatnya seorang bloger. mereka mampu menghasilkan tulisan secara hebat dan intens. dengan seringnya menulis dan semakin banyak tulisannya dibaca orang lain, penulis tersebut semakin dekat dengan gaya penulisan yang nyaman untuk ditulis dan menyenangkan untuk dibaca. dimana untuk menemukan posisi ideal seperti itu tak bisa diperoleh dengan sekali atau dua kali menulis saja.

para pakar selalu mengaitkan kebiasaan menulis dengan kecerdasan. banyak orang yang gemar membaca namun tak banyak yang gemar menulis. padahal dengan menulis seseorang akan terbiasa menuangkan gagasan yang (mungkin) tak bisa atau sulit diekspresikan dengan media lain. secara sederhana saya contohkan si udin baru saja melihat sebuah pohon aneh di pedalaman papua. si udin menyampaikan hal tersebut pada anto sahabatnya. setelah informasi tersebut diterima oleh anto maka bisa jadi informasi akan berhenti sampai di anto saja. sangat bergantung pada anto apakah ia akan menyampaikannya pada orang berikutnya atau tidak.

coba saja bandingkan apabila si udin menuliskannya. udin menuliskan apa yang baru saja dilihatnya di blog miliknya disertai dengan segala informasi yang mendukung. begitu tulisan tersebut ter-publish, maka minimal akan ada 2 keuntungan disini. pertama, pembaca yang kebetulan mengunjungi blog si udin akan menerima informasi mengenai pohon aneh di pedalaman papua dan tanpa ia harus meneruskan informasi tersebut ke orang berikutnya, informasi itu tetap tersebar. keuntungan kedua si udin menjadi selangkah lebih dekat untuk menjadi penulis yang hebat. bukankah orang bijak sering berkata bahwa seseorang akan menjadi mahir dalam suatu bidang dengan melakukan hal (bidang) tersebut berulang-ulang ?

saya teringat kata-kata dosen di sebuah mata kuliah, tentang 3 hal bahwa jika kau ingin mengetahui suatu hal maka banyaklah membaca, jika kau ingin paham bidang tersebut maka aplikasikan/praktekanlah. dan jika kau ingin mahir ajarkanlah kepada orang lain. maka bolehlah saya tambahkan bahwa jika kau ingin menjadi luar biasa, tuliskanlah.

jadi berhentilah bertanya ‘dapat apa saya dengan menulis ?’ tapi tanyakanlah ‘dapat apa jika saya tak menulis ?’

halo, ibu..

motheroosebeberapa tahun yang lalu tepatnya saat upcara kelulusan SMA saya di sebuah kota di jawa timur, semua orang tua siswa hadir dan menyaksikan rangkaian ritual acara kelulusan siswa dengan bahagia.

diantara deretan kursi undangan ada ibu dan bapak saya yang juga hadir dengan balutan pakaian batik yang paling bagus yang ada di almari mereka. senyum terus mengembang di wajah saya, ibu juga walaupun tampak kuyu tetap menyunggingkan senyum termanisnya setiap kali saya mencuri pandang kepadanya. ibu menjadi terlihat lelah mungkin karena perjalanan yang memakan waktu satu malam dari rumah ke sekolah saya (saat sma saya bersekolah di luar kota).

namun kira-kira setengah jam menjelang acara berakhir ibu saya melambaikan tangan ke arah saya, isyarat untuk saya agar mendekat. saya beranjak dari tempat duduk dan menemuinya di pintu keluar. ibu dan bapak memeluk saya bergantian dan mengatakan harus segera pulang dan tak bisa mengikuti acara hingga selesai. terkejut sekali saya, bahkan mereka belum istirahat sedikitpun dan sekarang sudah harus menempuh perjalanan jauh kembali. wajah ibu pucat dan saya semakin tak tega melihatnya. namun apa mau dikata, mereka agak memaksa karena ada urusan yang lebih mendesak. dan pada akhirnya saya melepas mereka juga di pintu keluar itu.

tahukah anda, sehari kemudian ibu saya memberi kabar bahwa sebenarnya sejak 3 hari sebelumnya adik laki-laki saya dirawat di rumah sakit karena sebuah kecelakaan lalu lintas. dan sejak 3 hari itu pula ibu saya dengan sabar menunggui adik saya di rumah sakit dengan nyaris tanpa tidur. dan pada hari upacara kelulusan saya dipaksakan datang juga, senyum selalu merekah diwajahnya walaupun dengan kelopak mata yang mulai menghitam. sengaja tak memeberi tahu saya sejak awal karena tak ingin merusak kebahagiaan saya dihari itu.

dan hari ini saya hanya ingin menyampaikan, selamat ulang tahun ibu, terimakasih atas semuanya..

seputar macet

tenang, jakarta belum sampai seperti ini kok.

tenang, jakarta belum sampai seperti ini kok.

sejak saya nyemplung (secara tidak sengaja) di dunia per-twitter-an, saya jadi suka mengamati dan menyimpulkan bahwa 65% ocehan (twitter berarti mengoceh bukan ?) orang-orang tak jauh-jauh dari keluhan. apapun dikeluhkan.

dan yang paling menarik adalah keluhan tentang macet. tak kurang dari 100 (seratus) input mengumpat kemacetan yang terjadi di jakarta setiap harinya. umpatan dan sumpah serapah terlempar dengan sengitnya seakan-akan sangat anti dengan jakarta.

namun apa? keesokan harinya dengan senyum semangat sambil mencium istri dan anak, mereka masuk ke mobil, menyalakan mesin dan…. nyemplung lagi ke jalan-jalan jakarta yang kemarin mereka umpat-umpat.

dan siangnya… mengumpat lagi.

(gambar: www.detiknews.com)

seputar musibah, panik dan teriak

rasanya bohong besar jika masih ada dari anda yang belum menyaksikan detik-detik musibah gempa bumi di sumatera barat belum lama ini. semua stasiun tv jor-joran menampilkan saat dimana bumi berguncang hebat dan manusia yang berlarian menyelamatkan diri.

dari semua kepanikan yang terjadi, sayup suara yang terdengar antara lain …

‘Allahu akbar!, Astaghfirullah!, Subhanallah!’ dan seterusnya.

tak pelak hal tersebut membuat saya menjadi malu dan sedih. mengapa? mari kita berfikir dengan jujur, seberapa sering kita melafalkan kata-kata takbir dan dzikir seperti di atas ? semoga saya salah, jangan-jangan (sekali lagi, jangan-jangan) kita harus menunggu Tuhan “menegur” kita terlebih dahulu supaya kita mau berpekik dengan sekuat tenaga “Allahu akbar!”