merantau, seni pencak silat yang dibungkus dengan rapi
konon terdapat tradisi di tanah minang, bahwa jika anak laki-laki telah beranjak dewasa, maka telah saatnya ia meninggalkan kampung halamannya untuk pergi merantau, tujuannya adalah sebagai pembelajaran diri. tradisi itu pula yang membuat Yuda (Iko Uwais) beranjak meninggalkan kampung halaman dan keluarga yang amat disayanginya. jakarta tujuannya, kota yang sama sekali asing baginya. berangan-angan untuk menjadi guru silat, Yuda malah dihadapkan dengan dilema ketika justru ditawari untuk bekerja sebagai tukang pukul bagi sebuah organisasi prostitusi.
karena kejujuran dan kelurusan hatinya Yuda justru terlibat dalam misi penyelamatan seorang wanita yang akan dijadikan komoditas dan “dijual” ke luar negeri. dengan susah payah Yuda harus berjuang sendirian untuk membebaskan Astri (Sisca Jessica) dan adiknya, Adit (Yusuf Aulia) dari sekapan mafia kelas dunia penyelundup wanita. melalui berbagai macam pertempuran, dari tangan kosong, bersenjatakan tongkat besi hingga pertarungan sengit di atap gedung-gedung Jakarta Yuda berhasil menyelamatkan Astri dan Adit, namun sayang nasib malang justru menghampiri Yuda pada akhirnya. apa yang terjadi? silakan anda nikmati sendiri film ini.
menit-menit awal kita akan dimanjakan dengan panorama bukittinggi yang memanjakan mata, lanskap perbukitan hijau, perumahan khas minang serta kebun dan hutan yang masih alami. ditambah dengan close-up kehidupan penduduk lokal yang berprofesi sebagai petani ladang membuat kita merasa nyaman. untuk standar film laga indonesia, saya sangat salut terhadap film ini. semua scene laga dikerjakan dengan apik dan rapi, bahkan saya sempat lupa jika sedang menonton film dalam negeri. alur cerita sangat biasa, tak lebih dari anak muda yang merantau dan terlibat kisah penyelamatan wanita di kota besar. sangat umum. namun pemilihan tokoh, teknik pengambilan gambar hingga penataan laga plus special efeknya menunjukkan perkembangan yang sangat pesat untuk ukuran film indonesia. saya benar-benar salut.
peringatan saya, film ini kurang direkomendasikan untuk konsumsi anak-anak, sebab banyak sekali adegan pertarungan yang keras serta darah yang berceceran di sana-sini. namun jika memang anda ingin memperkenalkan pencak silat bagi putra-putri anda, jangan lupa untuk selalu mendampingi mereka selama menonton. selamat merantau!
–dika
Boljug nih resensi filmnya, dan itu Bukittinggi menyimpan pesona yang kontras dan memikat ya
Dialognya masih kaku tapi..
wahh klu mo ngenalin pencak silat, saiia lebih memilih supaya anak2 baca karya2 nya bastian tito mas di banding nonton pelem
abis juntrungannya parah… sinetron misalnya… ooouughh… gag nyambung iia?!?!?
hehehehhe.. salam kenal iia mas
Kalo Si Midun (Salah Asuhan) merantaunya masih di lokal ya, hehehe.
Belum nonton, tapi lihat iklannya di TV ada adegan orang melompat dari atap disambut dengan bambu hingga tertancap, jadi ragu untuk nonton.
salamsatu jiwa……………..top..
kabarnya film ini tidak sebagus yang dibayangkan…katanya pemeran utamanya mati ya?
salam dari rantau
belum nonton film nya
aku pengen nonton filem ini kayanya keren (pemainnya juga)
wah jd pnasaran dh, tar ntn ah
wah, aku juga lama gak pulang ke madiun mas…
yo pas lebaran aja yah tak sampein salamnya ^^
liat reviewnya di tv. adegan loncat dr atap truz bambu nancep ke perut tuh ngeri banget yah
emang sih ini film laga,
tp jadi pengen nonton deh
renaca mau nonton di bioskop tapi ah mending nunggu downloanya saja
Ke bioskop ahh… sapa mau ikut?? hehehe
Moantapz…
jackie chan nya indonesia mas