Archive for August, 2009

seputar festival lagu daerah dadakan

menari bersama

.

siang itu selepas sholat jumat saya leyeh-leyeh di kantor sambil baca berita.
selang beberapa menit sayup-sayup terdengar suara seseorang berdendang pelan, hampir tak kedengeran namun saya tau pasti apa yang dinyanyikannya.

itu lagu Rasa Sayange, lagu daerah dari indonesia bagian tengah. saya berpikir pastilah si Firman yang menyanyikannya, orang keturunan jawa separuh cina yang duduk tak jauh di depan saya. tak ada hal besar sejauh ini.

namun 2 menit kemudian firman berdiri dan berjalan keluar ruangan, ehh, lagunya masih mengalun juga. suaranya terlalu murni (baca: fales) untuk ukuran musik dari file mp3. jadi siapa?

usut punya usut ternyata si Jai Ho *) yang menyanyikannya, lengkap dengan kepala yang ngangguk-ngangguk tanpa dosa. apa??? ya! Jai Ho si warga negara malays*a yang baru beberapa hari terakhir ngantor dan menempati meja di sebelah saya persis. %!@^*^#&(*@%&@# saya bener-bener tak tau lagi mesti bicara apa.

akhirnya, saya putar lagu Nyidam Sari dan Ketaman Asmoro dengan volume keras dari laptop saya. huh..!

(* menggunakan nama samaran guna melindungi tersangka dari amuk masa

seputar sahur dan televisi

tayangan televisi ramadhansaya teringat kala kecil dulu, setiap masa sahur tiba ibu akan membangunkan seluruh anggota keluarga untuk bersantap sahur bersama, pada waktu itu belum ada jam ber-alarm di desa kami sehingga andai ibu tak terbangun tepat pada waktunya kami sekeluargapun tak bersantap sahur.
setelah mencuci muka acara makan pun dimulai dilanjutkan dengan mengaji bersama bapak sembari menunggu subuh.

demikian yang saya ingat kala itu. sudahlah kita tinggalkan saja masa kecil saya, saat ini ada hal yang menggelitik saya setiap masa sahur tiba. yaitu tayangan di televisi yang jika kita amati semuanya sangat seragam, tak ada muatan ceramah atau dakwah di sana, melainkan acara komedi dan bagi-bagi hadiah via kuis telepon.

entah apa sebab pastinya namun menurut kacamata saya pribadi bulan ramadhan benar-benar telah membawa barokah bagi segenap umat. baik pahala, ampunan dan tentu saja rupiah. mari kita lihat televisi, iklan-iklan didominasi oleh sajian kuliner, komedi yang ditumpangi sponsor-sponsor tunggal hingga duit yang didapat dengan mudah hanya dengan menelepon dan menjawab pertanyaan yang amat mudah. rasanya tayangan ceramah dan dakwah semakin terdesak saja keberadaannya.

jika boleh saya tunjukkan hitungan saya, di bulan ramadhan yang suci ini tayangan dakwah bertambah 20% dan tayangan komedi bertambah 120%.
bagaimana menurut sampeyan ?

saonah

angin sore itu meniup dingin
tapi tak cukup dingin untuk membekukan dermaga sepi di pojok desa itu
tak cukup dingin juga untuk meredam gerahnya Parjo dan Saonah
perawan kembang kampung dan perjaka perantauan
diam, bersebelahan tapi diam
Parjo diam
Saonah diam
burung2 camar diam
dermaga yang dingin juga diam

“pertemuan kita ini tak seharusnya terjadi”
parau suara Saonah mengagetkan riak yang bisu
“kamu menyesal?” menunduk Parjo
“aku tidak pernah menyesalinya, tapi seakan aku menghianati kang Diman”
“aku mengerti, aku yang salah, aku minta maaf” Parjo menatap mata Saonah yang terus terpejam.
“kang Diman kerja di kota, membanting tulang untuk masa depan dia dan aku, tapi aku…”
“aku tak tau lagi bagaimana harus minta maaf, atau kita tak perlu bertemu lagi ?”
“tidak, tidak.. tak perlu begitu”
“lalu ?”
“jalani saja seperti biasa, seakan 2 hari ini tak pernah terjadi”
“ya… ya.. aku mengerti, dan akan kulakukan kalau kau pikir itu yg terbaik”

Saonah diam lagi
Parjo diam lagi
dermaga itu pun diam lagi

Saonah tenggelam dalam galaunya yang beku
benar2 hatinya tak bisa berbohong
2 hari bersama Parjo,
dia rasakan yang tak pernah dirasakannya bersama Diman
jejaka terkasih yang sedang merantau mengumpulkan keping2 masa depan.

angin malam itu meniup dingin
tapi tak cukup dingin untuk mendinginkan Saonah
Saonah bingung
dipejamkan matanya, dalam
berharap semua cepat berlalu
tapi tak bisa
saat ini disampingnya bukan kang Diman
tapi Parjo
jejaka perantauan yang telapaknya erat digenggam Saonah
tapi
diam.

dk_ November 24th, 2007

kamis pahing vs jumat kliwon

calendar-pieceAnda tahu situs purbakala candi(keraton) Ratu Boko ? Jika tak tahu silakan mencari informasinya di internet karena saya tidak akan menjelaskan candi itu di sini.

beberapa hari yang lalu ketika saya secara tak sengaja terdampar disana bersama seorang teman, tak ada angin tak ada hujan sekonyong-konyong datanglah seorang bapak tua berusia 80-an menghampiri kami. dan tanpa tujuan yang pasti bapak ini lalu bercerita kepada kami tentang dirinya, bahwa ia telah tinggal di sekitar kompleks candi ratu boko sejak lahir, sempat ikut menjadi tentara perebutan kemerdekaan indonesia kala muda dan sebagainya. anehnya kami sama sekali tak keberatan mengikuti ceritanya dari awal sampai akhir, hingga pada akhirnya si bapak bertanya hari dan pasaran kelahiran saya. dengan santai saya jawab saja, kamis pahing pak!

beberapa detik lamanya si bapak komat-kamit sambil menggerakkan jemarinya macam orang yang sedang berhitung, kemudian berpetuah..

“hari naas kamu Jumat Kliwon, jadi jangan bepergian pada hari itu dan pukul satu siang berkatalah yang baik-baik saja.”

dan setelah melakukan hal yang sama terhadap teman saya, si bapak pun pergi begitu saja meninggalkan kami yang kebingungan. bahkan menanyakan nama si bapak pun kami tak sempat lagi.

ada masukan ?

merantau, seni pencak silat yang dibungkus dengan rapi

merantau-dlmkonon terdapat tradisi di tanah minang, bahwa jika anak laki-laki telah beranjak dewasa, maka telah saatnya ia meninggalkan kampung halamannya untuk pergi merantau, tujuannya adalah sebagai pembelajaran diri. tradisi itu pula yang membuat Yuda (Iko Uwais) beranjak meninggalkan kampung halaman dan keluarga yang amat disayanginya. jakarta tujuannya, kota yang sama sekali asing baginya. berangan-angan untuk menjadi guru silat, Yuda malah dihadapkan dengan dilema ketika justru ditawari untuk bekerja sebagai tukang pukul bagi sebuah organisasi prostitusi.

karena kejujuran dan kelurusan hatinya Yuda justru terlibat dalam misi penyelamatan seorang wanita yang akan dijadikan komoditas dan “dijual” ke luar negeri. dengan susah payah Yuda harus berjuang sendirian untuk membebaskan Astri (Sisca Jessica) dan adiknya, Adit (Yusuf Aulia) dari sekapan mafia kelas dunia penyelundup wanita. melalui berbagai macam pertempuran, dari tangan kosong, bersenjatakan tongkat besi hingga pertarungan sengit di atap gedung-gedung Jakarta Yuda berhasil menyelamatkan Astri dan Adit, namun sayang nasib malang justru menghampiri Yuda pada akhirnya. apa yang terjadi? silakan anda nikmati sendiri film ini.

menit-menit awal kita akan dimanjakan dengan panorama bukittinggi yang memanjakan mata, lanskap perbukitan hijau, perumahan khas minang serta kebun dan hutan yang masih alami. ditambah dengan close-up kehidupan penduduk lokal yang berprofesi sebagai petani ladang membuat kita merasa nyaman. untuk standar film laga indonesia, saya sangat salut terhadap film ini. semua scene laga dikerjakan dengan apik dan rapi, bahkan saya sempat lupa jika sedang menonton film dalam negeri. alur cerita sangat biasa, tak lebih dari anak muda yang merantau dan terlibat kisah penyelamatan wanita di kota besar. sangat umum. namun pemilihan tokoh, teknik pengambilan gambar hingga penataan laga plus special efeknya menunjukkan perkembangan yang sangat pesat untuk ukuran film indonesia. saya benar-benar salut.

peringatan saya, film ini kurang direkomendasikan untuk konsumsi anak-anak, sebab banyak sekali adegan pertarungan yang keras serta darah yang berceceran di sana-sini. namun jika memang anda ingin memperkenalkan pencak silat bagi putra-putri anda, jangan lupa untuk selalu mendampingi mereka selama menonton. selamat merantau!

–dika

Next Page »