Archive for July, 2009

putri, penari jaipong

putri1Putri masih terengah-engah ketika menghampiri saya di pinggiran saung siang itu. dari pagi hingga siag ia memberikan pelatihan dasar tarian jaipong kepada anak-anak peserta sebuah kegiatan jambore yang diselenggarakan stasiun tv swasta. keringat membasahi keningnya namun senyumnya tetap mengembang seakan panasnya siang itu sama sekali tak berpengaruh buatnya.

sindangbarang, bogor, itulah asalnya. baru saja ia diterima di sebuah perguruan tinggi swasta di bogor jurusan akuntansi, bidang yang sangat ia cintai.
mulai belajar menari jaipong pada saat duduk di kelas 1 sma, “pada awalnya ibu yang memaksa saya, tapi setelah beberapa bulan berlatih dan mendalami jaipong justru saya semakin mencintai tarian ini,” kenangnya.

proses belajar jaipong yang dijalani putri termasuk cepat. baru setahun berlatih job pertama pun datang menghampirinya. ia diminta untuk membawakan tari jaipong (pada waktu itu berkelompok) dalam sebuah acara penyambutan tamu dari manca negara yang berkunjung ke bogor untuk melakukan misi pengamatan budaya.
“wih, senang sekali.. apalagi pada waktu itu mendapat honor. walaupun tidak begitu besar tapi saya sangat mensyukurinya,” tuturnya sambil berbinar-binar.
bisa dibilang itulah awal karir putri sebagai penari profesional. sejak saat itu tawaran pun berdatangan, baik dari perseorangan maupun dari instansi pemerintah. namun tawaran-tawaran tersebut tak lantas langsung diterima begitu saja, sang ibu kembali berperan sebagai filter. waktu pentas tak boleh lebih dari pukul 10 malam dan tak boleh mengganggu jadwal sekolahnya, berarti hanya boleh dilakukan pada hari libur saja.

saya pun mulai bertanya tentang image jaipong yang mulai tercemar oleh ‘rekan-rekan seprofesinya’ yang membawakan tarian jaipong untuk hal-hal negatif. putri mengerti hal tersebut, ia pun hanya bisa prihatin dan menyayangkan.
“seharusnya jaipong menjadi icon kebudayaan jawa barat yang berharga, namun harus tercemar citranya hanya karena ulah segelintir orang,” sesalnya. “beberapa penari memang mau melakukan gerakan-gerakan erotis di dalam tariannya, bahkan sebagian bersedia memberikan layanan plus plus kepada tamu dengan imbalan uang”

namun menurut putri semua kembali ke masing-masing orangnya. “kami (para penari) hanya sebatas menghadirkan seni tari kami. apakah akan ditanggapi dengan positif atau negatif oleh penikmatnya, yang jelas kami hanya menjalankan profesi kami dengan profesional.” tegasnya.

walaupun karir menari putri bisa dibilang mulai gemilang, namun ia mengaku bahwa jaipong bukan merupakan tujuan karir utamanya. ia tetap ingin menjadi ekonom, namun cintanya kepada jaipong dan kebudayaan daerah kelahirannya tetap menjadi bagian dari dirinya hingga kapanpun.

putri juga berangan-angan untuk membuka sebuah sanggar tari sendiri untuk anak-anak usia sekolah dasar di kampungnya.
“ini kebudayaan dari tanah kita, kalau tidak diperkenalkan sedari kecil, takutnya nanti akan menghilang pelan-pelan. dan jika bukan putra daerah seperti kita-kita ini, siapa lagi yang akan merawatnya?” pungkasnya.

facebook, nasibmu kini

pagi-pagi buka email kantor, eh ada surat cinta dari yg punya pabrik…

————————— begin ———————————

Kepada YTH,
Karyawan PT Gajah Maju-mundur
Perihal : Pembatasan akses Facebook
Dengan hormat,
Mulai Senin, 13 Juli 2009,  akses Facebook dibatasi mulai  pukul 10.00 s/d 17.00, akses dapat dilakukan diluar dari jam tersebut.
Hal ini dilakukan untuk menjaga produktivitas jam kerja.
Demikianlah pemberitahuan ini, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Mengetahui,

yanng punya perusahaan

—————————————- ends —————————————-
okay, silakan meratap bagi yang menderita “facebook addict”
bagaimana dengan pabrik tempat anda mengabdi? apakah masih bisa bebas kirim-kiriman komen dan nge-tag foto ?
:D

rosadi si bocah ban

Rosadi di depan tumpukan ban sewaannya

celana pendek dan kemeja lusuh berwarna biru langit, rambut yang kemerahan dan kulit hitam legam terbakar terik matahari pantai. Rosadi, begitulah namanya.

bocah kelas 5 sd yang telah 2 bulan ini “berprofesi” sebagai penjaga persewaan ban renang di sebuah pantai di pinggiran indramayu yang sepi. ban-ban yang ia jaga pun bukan miliknya, barang-barang itu adalah milik seorang lelaki berusia 35 tahunan yang tak saya ketahui namanya. rosadi mengaku belum lama mengenalnya.

kebetulan hari itu hari minggu, hari libur dan saat yang sangat dinantikan oleh hampir seluruh anak sekolah untuk bermain, bersantai dan menghabiskan waktu dengan gembira bersama keluarga. begitupun dengan rosadi, hari minggu (dan hari libur pada umumnya) selalu ia sambut dengan gegap gempita. namun bukan untuk bersenang-senang menghamburkan harta orang tuanya, namun karena pada hari liburlah pantai sepi tempat ia biasa “mangkal” menjajakan ban sewaannya selalu lebih ramai dari hari-hari biasa. satu kali sewa tarifnya 3000 rupiah, sehingga jika sehari itu ban-nya disewa 10 orang, maka dia akan menyetor sebanyak 30.000 rupiah. mungkin 10.000 rupiah bisa masuk ke kantongnya begitu hari ini berakhir. ya, begitulah sistem perjanjian kerjanya. upah rosadi dibayar harian, tergantung perolehannya hari itu. “kalau hari libur bisa sampai 10 ribu, kalau hari sedang sepi bisa jadi hanya mendapat seribu, bahkan tak diupah sama sekali.” demikian yang dituturkannya kepada saya.

teori bahwa anak bungsu selalu identik dengan manja dan dilimpahi kasih sayang oleh orang tua tampaknya sama sekali tak berlaku bagi rosadi. ayahnya telah meninggal saat rosadi masih kecil, sedangkan ibunya… entah berada dimana sekarang. ada yang bilang telah menikah lagi, ada yang bilang menjadi tkw ke arab saudi, tak ada yang benar-benar terbukti. bagi rosadi satu hal yang ia yakini, ibunya sudah tak mengharapkannya lagi!

rosadi tinggal bersama kakak perempuan satu-satunya yang telah menikah dan memiliki anak. kakak iparnya sehari-hari bekerja sebagai penjaga portal akses masuk ke pantai.
sangat beruntung biaya sekolah rosadi telah ada yang menanggung. “bapak ketua lapangan”, begitulah rosadi menyebut orang dermawan itu. dimana dan apa jenis

rosadi

pekerjaanya rosadi tak tahu pasti, yang ia tahu bapak ketua lapangan sayang padanya, mungkin karena beliau juga tak memiliki anak. namun mendapat orang tua asuh yang kaya dan menyayanginya sama sekali tak lantas membuat rosadi menjadi malas. toh dia tidak diperbolehkan tinggal bersama bapak ketua lapangan oleh kakak perempuannya, entah kenapa.

satu hal yang membuat saya heran. rosadi sangat gemar bermain seorang diri, entah karena apa. setiap hari sepulang sekolah ia betah sekali bermain pasir dan permainan lain ala kadarnya di samping tumpukan ban di pinggiran laut yang sering sepi itu. benar-benar sendiri! coba anda bayangkan. saya berasumsi itulah sebabnya rosadi berwatak pendiam, menutup diri serta agak susah “nyambung” saat diajak berkomunikasi. beberapa kali saya harus mencerna ulang kata-kata polos yang dilontarkannya, ditambah lagi seakan-akan ia selalu menghindari kontak mata dengan lawan bicaranya.

hari beranjak siang, matahari juga mulai terik. terlalu siang untuk saya berlama-lama di pantai yang lengang itu, namun masih begitu

pagi untuk rosadi. orang-orang yang entah dari mana asalnya mulai berdatangan. rosadi pun menyambutnya dengan segudang harapan. saya meninggalkannya tanpa salam perpisahan. bukan karena saya enggan, namun rosadi mendadak menjadi begitu sibuknya menjajakan ban-ban sewaannya kepada “turis-turis” lokal yang baru saja sampai.

rosadi hanya salah satu dari jutaan anak indonesia yang mau tak mau harus kehilangan keceriaan masa kecilnya dan bergelut dengan hidup yang begitu kerasnya, beberapa bahkan dijadikan komoditi oleh pihak-pihak yang seharusnya membela dan memperjuangkan kepentingan mereka. percayalah, dunia ini jauh lebih kejam dan keras dari apa yang kita lihat di permukaan. maka, bersyukurlah.

setelah hibernasi

dengan ini saya nyatakan blog betet.blogdetik.com telah bangun dari hibernasinya.

semoga bermanfaat (buat saya sendiri tentunya)

:)