Archive for August, 2008

jangan tangkap saya pak!

ktp.jpg

suatu hari di sebuah bank swasta indonesia:

saya: mbak saya mau mengurus klaim ***** (censored), sudah saya lengkapi administrasinya.
mbak-mbak: ya, bisa pak. bisa lihat buku tabungan, ktp sama kartu atm nya pak?
saya: oh, silakan mbak (sambil nyodorin kartu atm, buku tabungan plus ktp kampung)
mbak-mbak: (memeriksa berkas sambil mengernyitkan dahi) lho pak, ktp nya kok kadal.. ?
saya: what?? kadal? (agak tersinggung juga disamain ma kadal. binatang yang suka melet-melet)
mbak-mbak: itu lho pak, kadaluarsa! (si mbak berkata dengan bijaksana)
saya: JEGERRR. apa ??
mbak-mbak: ktp bapak sudah kadaluarsa dua bulan.
saya: (diam, sedang meresapi apa yang sebenarnya terjadi)

jadilah sampai sekarang saya seorang warga gelap tanpa identitas, terkatung-katung tanpa busana di kota besar yang keras dan kejam. Uohhh..!. dan semoga tak ada aparat yang iseng baca blog saya.

sampai laporan ini di-posting-kan, saya harus membawa paspor kemana-mana sebagai mandataris ktp yang sedang diurus di kampung.

dan taukah anda betapa paranoidnya jika kebetulan bertemu dengan polisi atau satpol pp di jalan. selain menahan kentut, yang bisa saya lakukan adalah memalingkan wajah jauh-jauh dari mereka (sambil berkata dalam hati, ‘jangan tangkap saya paaak’)

TIPS HARI INI *):
- setiap ber-ulang tahun sempatkanlah untuk memeriksa ktp anda, siapa tahu sudah kadaluarsa.

(* tips hari ini dipersembahkan oleh: Mbak-mbak teller bank.

hey, saya masih muda!

little-boy.jpg

“ah, kamu belum waktunya ikut-ikut, masih di bawah umur!”

pernahkah seseorang mengatakan itu kepada anda? saya sangat sering mendengarnya.
perkataan bernada ‘mengejek’, yang biasa diucapkan kepada anggota paling muda di sebuah komunitas, dengan berbagai alasan. hanya bercanda atau mungkin sedang serius.

tapi taukah anda, betapa saya sangat mensyukuri ‘ejekan’ tersebut ?
kata-kata itu bahkan terdengar seperti kata-kata hiburan di telinga saya, mengabarkan warta gembira bahwa saya masih muda. :D

betapa saya melihat rekan-rekan saya yg lain sudah mulai dipusingkan dengan masa depan, menikah, kebutuhan ini dan itu. sedangkan saya, rasanya masih sangat enggan untuk memikirkan hal-hal tersebut. dan memang tak ada alasan yang mengharuskan saya untuk merisaukannya. setidaknya untuk saat ini.

“lalu jika memang merasa terlalu muda, mengapa bekerja?” atau “saya rasa kamu masih terlalu muda untuk bekerja”. kata-kata itu tak kalah seringnya saya dengar. dan jawaban saya selalu sama,
“kalau saya tidak bekerja, apa anda mau membiayai hobi saya yang tidak murah itu?” dan rata-rata mereka bisa mengerti.

tetap saja, disamping rasa syukur saya, ada juga hal-hal yang terasa mengganjal dengan ‘ke-muda-an’ saya ini.

banyak hal (seperti masuk/mengikuti event-event tertentu, aplikasi kartu kredit, aviliasi di beberapa komunitas dan sebagainya) yang sialnya selalu menerapkan sistem usia minimal. jadi dengan gigit jari saya selalu mengatakan “owh, jadi belum bisa yah..”

siapa takut ?

boss.gif

suatu pagi (mungkin lebih benar dikatakan siang) ketika saya hendak berangkat kerja, seorang teman kost bertanya, “setiap hari berangkat sesiang ini? tidak takut kena marah si bos?”.
pertanyaan yang singkat memang, tapi lagi-lagi cukup menarik perhatian saya. satu kata yang saya tangkap, takut.

apa saya merasa takut pada atasan? setelah beberapa hari saya perhatikan diri saya sendiri, ternyata jawabannya adalah, tidak!. lho, mengapa?

awalnya saya sedikit khawatir juga, apa saya sedang tidak normal? mengingat karyawan pada umumnya akan selalu merasa takut kepada atasan mereka. terlambat masuk kantor, terlambat mengerjakan tugas dan sebagainya. tapi belakangan saya mulai mensyukuri ke-tidak-takutan saya.

disadari atau tidak, jakarta telah membuat penghuninya menjadi orang-orang yang ‘penakut’.
takut kena macet, takut terlambat ke kantor, takut kena marah bos, takut kena sp, takut di pecat dan ketakutan-ketakutan yang lain membuat manusia seakan berjalan dan bergerak di luar kemauan mereka sendiri, hidup pun menjadi seperti dikendalikan tangan-tangan lain. alangkah malang nya.

satu-satunya yang membuat saya tetap berangkat ke tempat kerja adalah karena memang ada yang harus saya lakukan. komitmen. lagipula selama masih ada orang-orang yang tetap membuat saya nyaman disana dan bisa diajak berdiskusi, mengapa tidak?

dan jika ada pertanyaan, kapan saya akan berhenti bekerja dan mencari pekerjaan lain? jelas sekali jika saya sudah mulai merasa tidak nyaman dan bila tidak ada yang bisa diajak ‘berbincang’ lagi. lalu apa yang bisa saya perjuangkan kalau sudah begitu..

jadi semoga setelah ini anda tidak bertanya lagi, ‘apa kamu tidak takut dipecat?’, dan pertanyaan-pertanyaan ber notasi ‘ke-takut-an’ yang lain.

oh ya, beberapa waktu lalu ketika saya membuat sebuah tulisan lain, beberapa rekan bertanya, “wah, berani sekali. apa tidak takut jika para atasan anda membaca postingan ini?”
saya jawab, “kalau begitu kebetulan sekali. kalau sudah pada baca, berarti saya tak perlu susah-susah menyampaikan kepada mereka, bukan ?”

jadi, masih takut ?