Cinta dalam Ayat-Ayat

Ayat-ayat cinta

“Yuk, nonton Ayat-Ayat Cinta..!”
Suatu hari seorang teman berkata pada saya. Heh, saya tau itu film yang diangkat oleh Hanung Bramantyo -sutradara muda kondang yang telah sukses menelorkan film-film berkelas- dari novel best seller Habiburrahman.

Menariknya film ini? Sejauh ini saya belum menemukannya.Lho? beberapa teman mencibir kepada saya dan sebagian berkata “gak punya citarasa!”. Biar! Saya tetap menganggap penggarapan film ini sedikit ‘memaksa’. Setting yang diambil (seharusnya berada di Mesir, menurut novel aslinya) tak lebih dari 20% nya saja yang benar-benar dilakukan di Mesir, selebihnya? Saya kurang tau pasti, yang jelas ada di Indonesia, dengan properti seadanya. Saya berani mengatakan film ini laris karena images novelnya yang bertitle “Best Seller” telah terlebih dahulu merasuk ke otak para calon penonton yang saya bisa jamin lebih dari 90% nya sudah hapal betul alur cerita film yang akan ditonton ini.

Setting film yang memanjakan penikmat cerita cinta sejati dengan hiasan air mata di sana-sini jelas terlalu biasa di Indonesia bukan? Saya (dan Anda semua) bisa dengan jelas menangkap nuansa Islam yang begitu kental di sepanjang film ini, dan inilah nilai lebihnya, bukan cerita cinta nya Bung!

Hal yang paling menggelitik saya adalah, perilaku penontonnya. Hampir 40% rekan saya yang menonton film ini jadi berubah! Iya, Bahasa-bahasa Arab kagetan jadi sering terdengar, teman wanita mulai berjilbab (yang tentu hanya sebagian kecil saja), dan lain sebagainya. Wow, senangnya melihat ini. tapi saya pernah menulis bahwa bangsa Indonesia ini terlalu latah untuk dibilang ‘mendapat hidayah’, tapi semoga saya salah.


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?


6 Comments so far

  1.   b8189uv on March 10th, 2008

    heheh setuju, kekontroversialan film ini lebih dari karena dahsyatnya pengaruh novel itu sendiri. Tapi kalau kita baca novelnya maka akan terasa banget hambarnya film ini, terlebih akting-e Ferdi Nuril kurang pas banget gawe dadi Fahri, mungkin kudune castinge dikekno aku yo heheheheh

    salam kenal

    [ Wah, setujuh mas.. mending peran-e diwenehno sampeyan wae yoo. heheheh. kayake kok luwih pantes jadi mahasiswa al azhar. ]

  2.   ditto on March 11th, 2008

    bener2, setuju aku :D

  3.   Ghatel on March 13th, 2008
  4.   bonnienclyde on March 13th, 2008

    settingnya di India bukan?
    mendompleng ketenaran novelnya?
    yah sah-sah aja lah, toh simbiosis mutualisme bukan hal baru kan?
    lagian mas habiburahman jg ga keberatan kok ikutan tenar gr2 ni film. ya kan mas? hehehehehe

  5.   ntie on March 13th, 2008

    Baca novelnya jauh lebih menarik daripada nonton filmnya,………….

  6.   hanyandi on March 14th, 2008

    alhmadulilah, saya bacanovelnya baru lima lembar langsung ngantuk. apalagi nonton filmya

Leave a reply