Archive for November, 2007

New Pleasure

Oit,
Akhir-akhir ini gw nemuin cara yang mujarab buat ngilangin stress di kantor. Waktu kepala udah senut-senut ngeliatin layar yang mirip monokrom (warnanya cuman item sama putih doang), gw biasanya baca atau ngeliat yg lucu2. Apa aja deh, mulai dari blog yang lucu2, buku2 lucu, Tampang temen2 kantor yang lagi serius kerja juga setelah diamat-amatin ada unsur lucu nya juga. hehehe.. Ada yang kerja sambil nyanyi2, sambil ngemil, sambil pasang tampang sok serius, sambil jongkok, sambil nungging.. hahahah..

Kenapa gw seneng baca yang lucu2..? Ya iya lah, kalo lagi jenuh gw malah baca bacaan berat2, apalagi yg nyambung sama kerjaan, macam kamasutra firewall atau hentai routing dinamik, bukannya tambah seger malah bisa2 wajah gw yg sama sekali enggak lucu dan tampang setan ini jadi berkerut di sana-sini macam kakek2 abis mandi sauna.

Jadi yaa.. Siap2 aja dikatain gila (lha, emang sekarang kurang gila?) kalo kepergok cengengesan gak jelas di kantor. he he he.

dk_

Ini Punya Siapa Hayoo ??

Duh, sore2.. capek.
Tutup aja putty-ku sayang, pindah ke browser.. klik sana, klik sini, hantam sana, hantam sini, mirip sopir metro mini di jakarta.
Akhirnya mata saya tertuju pada sebuah situs yang bener2 bikin gregetan. Salah satu image yang sempat saya gantol, kayak gini nih..

Indah yaa ??
Jadi ingat waktu kecil, tiap tahu baru Hijriyah, gak pernah absen.. dandan yang imut, tak lupa mandi dan menggosok gigi, orang tua mesti ngajak saya ke Ponorogo, nonton acara grebeg suro. Kirab pusaka, dan yang paling bikin saya inget adalah tari reog Ponorogo. Eh, sekarang ada tari Reog Malaysia. ha ha ha, lucu juga saya pikir.
Kalo sampeyan mikir, kok mirip banget yah..? sampeyan kliru banget. Bukan mirip, karena memang itu reog ponorogo lho.. Kok bisa toh ??
Menurut pengakuan seorang warok Ponorogo (sebut saja dika_imut, bukan nama sebenarnya, red) Topeng dadak merak (topeng harimau dengan bulu merak di atasnya) tidak akan bisa dibuat oleh sembarang orang, perlu ritual khusus dan tangan2 terpilih. Dan setelah di konfirmasi ke sana-sini sampe ke kolong kasur, lobang tikus dan daerah sekitarnya, akhirnya terungkaplah bahwa pemerintah Malaysia memang sering sekali mengajukan permintaan export topeng dadak merak ke sejumlah pengrajin di Ponorogo sejak tahun 2000! tentu saja gak ngomong kalo mau dibuat ‘mbajak’. hehehe.
Sekarang baru terasa, pentingnya suatu hal kecil yang biasa dipanggil “hak cipta” yang dalam bahasa Madura sering disebut ‘copyright’. Dan begitu ngerti Reog dipentaskan (bahkan diakui sebagai budaya asli) negara tetangga (walaupun bukan dengan istilah reog), ramailah protes.. tapi yah.. kembali lagi, sudah terlambat Mbokde..!
Sekarang gimana? mau ngapain lagi?

dk_

IPv6 Kita; Mati Suri (Lagi)

Sekarang tahun 2007, akhir.
Sampai mana pertumbuhan ipv6 Indonesia ?
Agaknya setelah IPv6 menginjakkan kaki nya di tanah air, hingga saat ini (riset pertama tercatat pada tahun 2004 oleh CBN dan XL - CMIIW) pertumbuhan ipv6 di Indonesia sering terganjal beberapa masalah.. Masalah yang paling fundamental menurut versi saya pribadi adalah faktor SDM nya. Untuk masalah perangkat kita tak perlu lagi mempermasalahkannya. Dengan SDM yang benar-benar consern dengan ipv6, berbagai perangkat bisa dimanfaatkan..
Beberapa kali saya mengajukan pertanyaan kepada rekan2 saya yg aktifis di ISP Indonesia mengenai penerapan ipv6 di instansi mereka.
Jawaban yang saya dapat pun tidak jauh beda, rata-rata masih berkutat pada tidak adanya SDM yang konsern hingga alasan yang paling klasik, “belom butuh tuh..!”
Jika kita bicara masalah butuh dan belum butuh, memang masih sangat mencukupi untuk pemenuhan kebutuhan network dengan IPv4 di Indonesia pada saat ini. Namun kalau kita terus berkata ‘belum butuh’ dan seiring itu IPv4 terus digunakan, dan tanpa sadar menjadi bom waktu buat kita. Suatu saat, ketika IPv4 benar2 menipis, barulah terasa.. dan ironisnya, kita belum siap..!!

Secara pribadi saya lebih suka mengatakan implementasi IPv6 di lepaskan dari permasalahan butuh atau tidak butuhnya. Namun teknologi yang ditawarkan ipv6 dan perbandingannya dengan ipv4.

Analoginya pada saat kita diberikan sebuah sepeda oleh orang tua.. Dalam usia anak2, betapa senangnya kita.. tapi suatu ketika orang tua kita menawarkan sebuah sepeda motor.. Apakah kita akan menolaknya dan tetap menggunakan sepeda..? Saya sangat yakin kita akan meninggalkan sepeda dan segera beralih ke sepeda motor yang menawarkan berbagai kemudahan. Apakah alasannya hanya karena sepeda sudah tidak bisa dipakai?? tentu bukan, jika Anda berfikir masalah ‘upgrade’ dan peningkatan performa, ok.. kita dalam jalur yang sama sekarang.

Sempat juga terpikir oleh otak nakal saya, bahwa bangsa Inodonesia mirip dengan bangsa yang ‘latah’, mudah kaget. Memang suatu saat perlu sedikit ‘paksaan’ untuk melakukan sesuatu atau berpindah ke sesuatu yang baru. Saya ambil contoh migrasi opensource. Beberapa saat yang lalu, kita terlena dengan sistem operasi binary yang begitu memanjakan. Walaupun OpenSource telah hadir dan menunjukkan keistimewaannya, tampak sekali kemalasan telah membawa kita mementahkan opensource dan tetap asyik dengan Office kita. Hingga suatu saat ramai lah terdengar kabar tentang HAKI dan sweeping software bajakan yg mulai se-ramai operasi WTS dan Waria.

Bagaimana ya untuk melakukannya juga di IPv6, bagaimana kalau dilakukan sedikit ‘gertakan’ dan ‘ancaman’ untuk men-trigger user2 malas untuk segera berpindah (ke IPv6 tentunya). Dengan memanfaatkan sifat ‘latah’nya Indonesia, mungkin cara ini bisa mulai difikirkan. he he he.

Saat detik.com menelorkan www6 nya, sempat beberapa lama kalangan aktivis ‘kaget’ dan ramai lah lagi ipv6 di tanah air. Wong namanya orang kaget, pasti gak lama, dan segera adem lagi. Yah, liat aja sekarang.
Sekali lagi, ini cuman tulisan nakal admin ingusan yang kurang kerjaan. Kalo gak setuju, ya silakan di caci.

.dk_

Blog yang Bener2 Blog…

Semangat!
Umur makin berkurang, salah kalo orang bilang umur makin bertambah. Soalnya kata pak ustadz umur kita udah di jatah sama yg di Atas Sono, liat aja
kalo kita di jatah duit, makin dipake pasti makin abis kan?? Ya aneh juga kalo makin banyak kita make duit, malah duit nya nambah terus. kekekeke..

Atas permintaan dari maling2 yang sering liatin blog gw tanpa ijin, yang sering naruh komentar seenaknya, akhirnya gw nulis blog yang bener2 blog.
Puass..??!
Dan dengan mulut bau-nya mereka mulai mencaci..
‘Blog mu kok isinya cuman tutorial toh..??’
‘Hah, km bilang ini blog? lebih mirip e-book..!’
atau
‘Heh, blogmu koyok Janc*k..!!’

Yah, mau gimana lagi, resiko jadi pemuda gak terlalu ganteng tapi beken ya emang gini aja, gak bisa menghindar sih yaa..
Yang merasa dirinya lebih ganteng atau lebih beken, yah.. ga usah tersinggung, berarti kita teman senasib, iyah nggak ??

Orang bilang blog itu tempat nulis barang2 yang ada di dalem otak, apapun.. Jadi ya tulung gak usah muring-muring kalo mungkin nanti gw nulis barang2
yang menusuk ati sampeyan semua..
Buat apa juga muring2, mending sampeyan langsung dateng aja kemari.. terus tak traktir kopi.. akur kan??

Udah, cukup dulu kenalan nya.
Lain kali mungkin nulis yang lebih gak senonoh lagi.
Awas kalo sampe ada yg protes..!

dk_

www.detik.com vs www6.detik.com

Satu pertanyaan, ‘mengapa detik.com menggunakan name www6.detik.com untuk situs dengan dukungan IPv6 nya, dan tidak menyatukannya dengan www.detik.com ?’

Pasti terlihat lebih ‘bergengsi’ bila situs www.detik.com bisa diakses dengan IPv4 plus IPv6 dalam satu nama saja  www.detik.com saja).

Yang harus diluruskan disini adalah, hal tersebut terjadi dengan kesengajaan dan bukan karena pihak IT detik.com belum bisa menyatukannya.
Alasannya.. ??

Silakan pelajari fitur dari 2 browser paling populer di kalangan surfer2 jagat maya saat ini, Internet Explore dan Mozilla Firefox.
Di versi terbaru mereka, (IE7 dan Firefox2) resolver default nya adalah menggunakan IPv6. Jadi secara default setiap situs yang ‘ditengok’ melalui dua jendela ini, akan menanyakan terlebih dahulu di server tujuan.. Apakah situs ini support dengan IPv6 ? Jika tidak, maka koneksi akan dilangsungkan dengan protokol IPv4. Jika iya, maka browser akan berganti meneliti apakah host yang digunakan saat ini sudah mendukung IPv6 juga? Kalau kedua pihak telah support dengan IPv6, maka koneksi akan dilangsungkan. Namun apa yang terjadi jika didapati server situs tujuan telah mendukung IPv6 sedangkan host asal belum ? Maka browser akan sedikit membutuhkan waktu untuk mengganti resolver-nya dengan IPv4 serta membangun hubungan dengan IPv4.
Lalu mengapa pihak detik.com meluncurkan versi www6.detik.com-nya? Jelas alasannya mengacu pada reliabilitas koneksi yang dijanjikan kepada pengguna IPv6. Dengan IPv4 yang telah ada, detik.com yang telah terhubung langsung dengan OpenIXP tidak akan memerlukan lompatan hop yang panjang untuk dijangkau dari dalam negeri. Hal tersebut masih bisa dioptimalkan dengan lebih baik dengan IPv6. Dengan jumlah lompatan (router) yang lebih sedikit, jelas kehandalan koneksi lebih bisa dijamin.

Jadi, pilih www atau www6 … ?
Silakan tanya host Anda..!

Dk_

Next Page »