rosadi si bocah ban

Bener-bener Blog, Live & Society  Tagged , , , , No Comments »

Rosadi di depan tumpukan ban sewaannya

celana pendek dan kemeja lusuh berwarna biru langit, rambut yang kemerahan dan kulit hitam legam terbakar terik matahari pantai. Rosadi, begitulah namanya.

bocah kelas 5 sd yang telah 2 bulan ini “berprofesi” sebagai penjaga persewaan ban renang di sebuah pantai di pinggiran indramayu yang sepi. ban-ban yang ia jaga pun bukan miliknya, barang-barang itu adalah milik seorang lelaki berusia 35 tahunan yang tak saya ketahui namanya. rosadi mengaku belum lama mengenalnya.

kebetulan hari itu hari minggu, hari libur dan saat yang sangat dinantikan oleh hampir seluruh anak sekolah untuk bermain, bersantai dan menghabiskan waktu dengan gembira bersama keluarga. begitupun dengan rosadi, hari minggu (dan hari libur pada umumnya) selalu ia sambut dengan gegap gempita. namun bukan untuk bersenang-senang menghamburkan harta orang tuanya, namun karena pada hari liburlah pantai sepi tempat ia biasa “mangkal” menjajakan ban sewaannya selalu lebih ramai dari hari-hari biasa. satu kali sewa tarifnya 3000 rupiah, sehingga jika sehari itu ban-nya disewa 10 orang, maka dia akan menyetor sebanyak 30.000 rupiah. mungkin 10.000 rupiah bisa masuk ke kantongnya begitu hari ini berakhir. ya, begitulah sistem perjanjian kerjanya. upah rosadi dibayar harian, tergantung perolehannya hari itu. “kalau hari libur bisa sampai 10 ribu, kalau hari sedang sepi bisa jadi hanya mendapat seribu, bahkan tak diupah sama sekali.” demikian yang dituturkannya kepada saya.

teori bahwa anak bungsu selalu identik dengan manja dan dilimpahi kasih sayang oleh orang tua tampaknya sama sekali tak berlaku bagi rosadi. ayahnya telah meninggal saat rosadi masih kecil, sedangkan ibunya… entah berada dimana sekarang. ada yang bilang telah menikah lagi, ada yang bilang menjadi tkw ke arab saudi, tak ada yang benar-benar terbukti. bagi rosadi satu hal yang ia yakini, ibunya sudah tak mengharapkannya lagi!

rosadi tinggal bersama kakak perempuan satu-satunya yang telah menikah dan memiliki anak. kakak iparnya sehari-hari bekerja sebagai penjaga portal akses masuk ke pantai.
sangat beruntung biaya sekolah rosadi telah ada yang menanggung. “bapak ketua lapangan”, begitulah rosadi menyebut orang dermawan itu. dimana dan apa jenis

rosadi

pekerjaanya rosadi tak tahu pasti, yang ia tahu bapak ketua lapangan sayang padanya, mungkin karena beliau juga tak memiliki anak. namun mendapat orang tua asuh yang kaya dan menyayanginya sama sekali tak lantas membuat rosadi menjadi malas. toh dia tidak diperbolehkan tinggal bersama bapak ketua lapangan oleh kakak perempuannya, entah kenapa.

satu hal yang membuat saya heran. rosadi sangat gemar bermain seorang diri, entah karena apa. setiap hari sepulang sekolah ia betah sekali bermain pasir dan permainan lain ala kadarnya di samping tumpukan ban di pinggiran laut yang sering sepi itu. benar-benar sendiri! coba anda bayangkan. saya berasumsi itulah sebabnya rosadi berwatak pendiam, menutup diri serta agak susah “nyambung” saat diajak berkomunikasi. beberapa kali saya harus mencerna ulang kata-kata polos yang dilontarkannya, ditambah lagi seakan-akan ia selalu menghindari kontak mata dengan lawan bicaranya.

hari beranjak siang, matahari juga mulai terik. terlalu siang untuk saya berlama-lama di pantai yang lengang itu, namun masih begitu

pagi untuk rosadi. orang-orang yang entah dari mana asalnya mulai berdatangan. rosadi pun menyambutnya dengan segudang harapan. saya meninggalkannya tanpa salam perpisahan. bukan karena saya enggan, namun rosadi mendadak menjadi begitu sibuknya menjajakan ban-ban sewaannya kepada “turis-turis” lokal yang baru saja sampai.

rosadi hanya salah satu dari jutaan anak indonesia yang mau tak mau harus kehilangan keceriaan masa kecilnya dan bergelut dengan hidup yang begitu kerasnya, beberapa bahkan dijadikan komoditi oleh pihak-pihak yang seharusnya membela dan memperjuangkan kepentingan mereka. percayalah, dunia ini jauh lebih kejam dan keras dari apa yang kita lihat di permukaan. maka, bersyukurlah.

setelah hibernasi

Bener-bener Blog, Live & Society  Tagged , , No Comments »

dengan ini saya nyatakan blog betet.blogdetik.com telah bangun dari hibernasinya.

semoga bermanfaat (buat saya sendiri tentunya)

:)

semrangatt!!

Bener-bener Blog, Live & Society 4 Comments »

Bagi yg belum tau, saat ini saya sudah pindah pabrik. (ah, kaya ngaruh aja!)

adakah yg berubah? tentu banyak. mainan pun sedikit banyak berubah, rekan-rekan ngabdi di pabrik juga gak sama lagi.
dari yg dulunya ngolor-olor kabel, ngangkat2 server, ngadepin layar komputer warna item-putih, beralih ke ms word, excel, nulis2 di buku agenda. boring!

dari lubuk hati terdalam saya bener2 kangen sama konsole, TCP, cache, dan temen-temennya.
tapi, show must go on, hari masih pagi, langkah masih panjang, cucian masih seember penuh. gak ada alasan buat kebanyakan ngelamun.
sekali opisboy tetap opisboy. semrangat!!

jangan tangkap saya pak!

Live & Society 13 Comments »

ktp.jpg

suatu hari di sebuah bank swasta indonesia:

saya: mbak saya mau mengurus klaim ***** (censored), sudah saya lengkapi administrasinya.
mbak-mbak: ya, bisa pak. bisa lihat buku tabungan, ktp sama kartu atm nya pak?
saya: oh, silakan mbak (sambil nyodorin kartu atm, buku tabungan plus ktp kampung)
mbak-mbak: (memeriksa berkas sambil mengernyitkan dahi) lho pak, ktp nya kok kadal.. ?
saya: what?? kadal? (agak tersinggung juga disamain ma kadal. binatang yang suka melet-melet)
mbak-mbak: itu lho pak, kadaluarsa! (si mbak berkata dengan bijaksana)
saya: JEGERRR. apa ??
mbak-mbak: ktp bapak sudah kadaluarsa dua bulan.
saya: (diam, sedang meresapi apa yang sebenarnya terjadi)

jadilah sampai sekarang saya seorang warga gelap tanpa identitas, terkatung-katung tanpa busana di kota besar yang keras dan kejam. Uohhh..!. dan semoga tak ada aparat yang iseng baca blog saya.

sampai laporan ini di-posting-kan, saya harus membawa paspor kemana-mana sebagai mandataris ktp yang sedang diurus di kampung.

dan taukah anda betapa paranoidnya jika kebetulan bertemu dengan polisi atau satpol pp di jalan. selain menahan kentut, yang bisa saya lakukan adalah memalingkan wajah jauh-jauh dari mereka (sambil berkata dalam hati, ‘jangan tangkap saya paaak’)

TIPS HARI INI *):
- setiap ber-ulang tahun sempatkanlah untuk memeriksa ktp anda, siapa tahu sudah kadaluarsa.

(* tips hari ini dipersembahkan oleh: Mbak-mbak teller bank.

hey, saya masih muda!

Bener-bener Blog, Live & Society 7 Comments »

little-boy.jpg

“ah, kamu belum waktunya ikut-ikut, masih di bawah umur!”

pernahkah seseorang mengatakan itu kepada anda? saya sangat sering mendengarnya.
perkataan bernada ‘mengejek’, yang biasa diucapkan kepada anggota paling muda di sebuah komunitas, dengan berbagai alasan. hanya bercanda atau mungkin sedang serius.

tapi taukah anda, betapa saya sangat mensyukuri ‘ejekan’ tersebut ?
kata-kata itu bahkan terdengar seperti kata-kata hiburan di telinga saya, mengabarkan warta gembira bahwa saya masih muda. :D

betapa saya melihat rekan-rekan saya yg lain sudah mulai dipusingkan dengan masa depan, menikah, kebutuhan ini dan itu. sedangkan saya, rasanya masih sangat enggan untuk memikirkan hal-hal tersebut. dan memang tak ada alasan yang mengharuskan saya untuk merisaukannya. setidaknya untuk saat ini.

“lalu jika memang merasa terlalu muda, mengapa bekerja?” atau “saya rasa kamu masih terlalu muda untuk bekerja”. kata-kata itu tak kalah seringnya saya dengar. dan jawaban saya selalu sama,
“kalau saya tidak bekerja, apa anda mau membiayai hobi saya yang tidak murah itu?” dan rata-rata mereka bisa mengerti.

tetap saja, disamping rasa syukur saya, ada juga hal-hal yang terasa mengganjal dengan ‘ke-muda-an’ saya ini.

banyak hal (seperti masuk/mengikuti event-event tertentu, aplikasi kartu kredit, aviliasi di beberapa komunitas dan sebagainya) yang sialnya selalu menerapkan sistem usia minimal. jadi dengan gigit jari saya selalu mengatakan “owh, jadi belum bisa yah..”

siapa takut ?

Live & Society, general 7 Comments »

boss.gif

suatu pagi (mungkin lebih benar dikatakan siang) ketika saya hendak berangkat kerja, seorang teman kost bertanya, “setiap hari berangkat sesiang ini? tidak takut kena marah si bos?”.
pertanyaan yang singkat memang, tapi lagi-lagi cukup menarik perhatian saya. satu kata yang saya tangkap, takut.

apa saya merasa takut pada atasan? setelah beberapa hari saya perhatikan diri saya sendiri, ternyata jawabannya adalah, tidak!. lho, mengapa?

awalnya saya sedikit khawatir juga, apa saya sedang tidak normal? mengingat karyawan pada umumnya akan selalu merasa takut kepada atasan mereka. terlambat masuk kantor, terlambat mengerjakan tugas dan sebagainya. tapi belakangan saya mulai mensyukuri ke-tidak-takutan saya.

disadari atau tidak, jakarta telah membuat penghuninya menjadi orang-orang yang ‘penakut’.
takut kena macet, takut terlambat ke kantor, takut kena marah bos, takut kena sp, takut di pecat dan ketakutan-ketakutan yang lain membuat manusia seakan berjalan dan bergerak di luar kemauan mereka sendiri, hidup pun menjadi seperti dikendalikan tangan-tangan lain. alangkah malang nya.

satu-satunya yang membuat saya tetap berangkat ke tempat kerja adalah karena memang ada yang harus saya lakukan. komitmen. lagipula selama masih ada orang-orang yang tetap membuat saya nyaman disana dan bisa diajak berdiskusi, mengapa tidak?

dan jika ada pertanyaan, kapan saya akan berhenti bekerja dan mencari pekerjaan lain? jelas sekali jika saya sudah mulai merasa tidak nyaman dan bila tidak ada yang bisa diajak ‘berbincang’ lagi. lalu apa yang bisa saya perjuangkan kalau sudah begitu..

jadi semoga setelah ini anda tidak bertanya lagi, ‘apa kamu tidak takut dipecat?’, dan pertanyaan-pertanyaan ber notasi ‘ke-takut-an’ yang lain.

oh ya, beberapa waktu lalu ketika saya membuat sebuah tulisan lain, beberapa rekan bertanya, “wah, berani sekali. apa tidak takut jika para atasan anda membaca postingan ini?”
saya jawab, “kalau begitu kebetulan sekali. kalau sudah pada baca, berarti saya tak perlu susah-susah menyampaikan kepada mereka, bukan ?”

jadi, masih takut ?

Mari Menjilat

Live & Society, general 18 Comments »

Bagaimana agar saya bisa cepat naik jabatan dan memperoleh gaji bagus di kantor ?
Saya telah menemukan caranya, menjadi penjilat. Ya, bekerja sekenanya bahkan cenderung hanya bermain-main saja, mendengarkan musik dan ngobrol dengan teman-teman di internet di saat bos tidak ada, tapi ketika si bos datang, segera saya akan mengganti wajah. Serius bekerja dengan membuka aplikasi yang ‘keren’ dan akan membuat bos terkesan, memegang kepala dengan sebelah tangan agar terkesan berpikir keras memecahkan persoalan perusahaan, wah, pasti bos segera akan melihat bahwa saya adalah seorang karyawan teladan yang akan segera membuat profit perusahaan meningkat puluhan kali lipat.

Saya juga tidak perlu bergaul dengan karyawan-karyawan lain yang tidak terlalu saya butuhkan, cukup dekati dan ciptakan kesan akrab dan kekeluargaan dengan para dedengkot perusahaan saja. Mulai supervisor ke atas lah. Saya akan usahakan untuk berkomunikasi dengan mereka setiap harinya, entah itu membicarakan issue yang sedang hangat yang bermunculan di berita, ataupun sekedar bertanya kabar dia atau keluarganya.

Tak lupa untuk melihat keadaan sekitar, lihat saja, siapa yang sekiranya akan menghalangi langkah saya. Orang yang bekerja dengan serius dan mulai menarik hati pimpinan tidak bisa dibiarkan, tentu saja akan ‘membahayakan’ jalan saya. Jatuhkan dia! Bagaimanapun caranya, kalau perlu yakinkan atasan bahwa saya lah yang paling baik, tak lupa dengan sedikit bumbu keburukan-keburukan si rival kerja. Pasti bos tak akan meliriknya lagi.

Ok, lengkaplah rencana saya. Bisa saya pastikan si bos akan sangat dekat dengan saya, yakin denga kinerja saya dan yang paling pokok adalah jabatan bagus dan gaji saya yang akan terpompa dengan lancar. Huuh..

Hey, apa Anda orang seperti saya ??

Google di IPv6

IPv6, general 1 Comment »

Google IPv6

Setelah menunggu lama (siapa yang nungguin?) Akhirnya Google jalan juga di IPv6.

Hehehe, Happy Googling..!

Cinta dalam Ayat-Ayat

Bener-bener Blog, general 6 Comments »

Ayat-ayat cinta

“Yuk, nonton Ayat-Ayat Cinta..!”
Suatu hari seorang teman berkata pada saya. Heh, saya tau itu film yang diangkat oleh Hanung Bramantyo -sutradara muda kondang yang telah sukses menelorkan film-film berkelas- dari novel best seller Habiburrahman.

Menariknya film ini? Sejauh ini saya belum menemukannya.Lho? beberapa teman mencibir kepada saya dan sebagian berkata “gak punya citarasa!”. Biar! Saya tetap menganggap penggarapan film ini sedikit ‘memaksa’. Setting yang diambil (seharusnya berada di Mesir, menurut novel aslinya) tak lebih dari 20% nya saja yang benar-benar dilakukan di Mesir, selebihnya? Saya kurang tau pasti, yang jelas ada di Indonesia, dengan properti seadanya. Saya berani mengatakan film ini laris karena images novelnya yang bertitle “Best Seller” telah terlebih dahulu merasuk ke otak para calon penonton yang saya bisa jamin lebih dari 90% nya sudah hapal betul alur cerita film yang akan ditonton ini.

Setting film yang memanjakan penikmat cerita cinta sejati dengan hiasan air mata di sana-sini jelas terlalu biasa di Indonesia bukan? Saya (dan Anda semua) bisa dengan jelas menangkap nuansa Islam yang begitu kental di sepanjang film ini, dan inilah nilai lebihnya, bukan cerita cinta nya Bung!

Hal yang paling menggelitik saya adalah, perilaku penontonnya. Hampir 40% rekan saya yang menonton film ini jadi berubah! Iya, Bahasa-bahasa Arab kagetan jadi sering terdengar, teman wanita mulai berjilbab (yang tentu hanya sebagian kecil saja), dan lain sebagainya. Wow, senangnya melihat ini. tapi saya pernah menulis bahwa bangsa Indonesia ini terlalu latah untuk dibilang ‘mendapat hidayah’, tapi semoga saya salah.

Aman Pak…

Bener-bener Blog, general 6 Comments »

Wajah dan kumis pak pulisi yang eksotis sengaja tidak ditampilkan, demi kebaikan bersama. :D

Jumat sore saya mampir ke Bank BCA di deket kantor. Sambil ngantri ATM, saya melihat bapak pulisi sedang duduk dengan santai. Saya pun berpikir,

Kerja Pak pulisi yang bertugas di bank begini ngapain aja ya..? Datang, berdiri, muter2, duduk, ngopi, berdiri lagi, keliling lagi dst. Satu hal yg saya simpulkan (tanpa perlu ikut praktek dulu), bosan! Mau ada kerjaan? Apa iya Pak Pulisi berdoa, ‘ya Tuhan, tolong Engkau kirimkan perampok untuk saya tangkap, biar saya ada kerjaan ya Tuhan..’?

Eit, tunggu dulu, saya nulis begini bukan karena sentimen sama pulisi lho ya..


WordPress Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in